MERAPI DI KAWASAN ARJUNA

KOMPLEK CANDI ARJUNA DI PEGUNUNGAN DIENG
Oleh: Ahmad Mubarok
UIN-SUKA, pegunungan Dieng di Kabupaten Banjar Negara Jawa Tengah memiliki keindahan alam yang mempesona. Ada beberapa tempat yang menjadi tujuan wisata dan menjadi andalan untuk menarik wisatawan. Dengan adanya pilihan tempat wisata ini, para wisatawan diberikan beberapa opsi pilihan yang menjadikan wisatawan dapat menikmati berbagai tempat wisata.
Beberapa anggota Korp Merapi beberapa waktu lalu telah mengadakan ekspedisi ke pegunungan Dieng, tepatnya pada hari selasa tanggal 25 Januari 2012. Selasa malam, kami menginjakkan kaki di Dieng, namun suasana pegunungan Dieng pada malam hari tidak memungkin kan bagi kami untuk menikmati suasana, maka malam itu juga kami langsung mencari penginapan yang cocok dengan keadaan kami. Kami membutuhkan tempat yang agak luas (muat untuk 12 orang), dan murah.
Setelah mendapatkan penginapan, kami di berikan informasi oleh pemilik penginapan bahwa di kawasan Dieng ada beberapa kawasan Wisata yang biasanya di minati para wisatawan. Antara lain, komplek candi arjuna, telaga warna, dan kawasan kawah Dieng. Dari ketiga kawasan wsata ini, yang paling dekat dengan penginapan kami adalah daerah koplek candi arjuna, sehingga tempat yang menjadi tujuan pertama kami adalah komplek candi Arjuna. Dari ketiga lokasi ini juga, hanya lokasi wisata telaga warna saja yang di punguti biaya masuk. Sedangkan untuk komplek candi Arjuna dan kawasan kawah Dieng hanya di beri biaya parker kendaraan.
Setelah merasa cukup beristirahat selama semalam di penginapan, akhirnya di pagi hari kami putuskan untuk mulai mengunjungi beberapa kawasan wisata. Seperti yag menjadi rencana did malam hari, kami memilih komplek candi Arjuna sebagai tujuan pertama. Dari penginapan kami menginap, komplek candi Arjuna cukup di tempuh dengan berjalan kaki, dan itu pun dengan waktu yang relative singkat, yaitu sekitar 15 menit perjalanan.
Cuaca pegunungan Dieng di pagi hari yang cukup dingin membuat tubuh kami malas untuk di ajak jalan-jalan, namun mengingat perjalanan yang melelahkan dari Yogyakarta-Dieng membangkitkan semangat kami untuk menikmati suasana. Perjalanan jauh nan melelahkan jangan hanya di sia-sia kan dalam penginapan tanpa member makna apa pun. Maka, dengan keadaan apa pun, sedingin apa pun lokasi Dieng, kami pasti akan menikmatinya.
Dalam perjalanan dari penginapan ke komplek candi Arjuna, kami mencoba untuk menikmati detik demi detik perjalanan. Warga sekitar yang kami temui selalu memberi senyum keramahan kepada kami. Keadaan warga sekitar yang ramah tamah, membuat daya tarik wisata Dieng semakin nyaman dan tentram, serta membuat setiap pengunjung merassa aman dan tentram di sini.
Setelah sampai di kawasan komplek candi Arjuna, kami sudah dapat merasakan bekas-bekas peradaban hindu disini. Peradaban hindu dapat kami ketahui dari tekstur bangunan candi yang hamper sama dengan bangunan candi prambanan. Kawasan candi Arjuna belum begitu lama di resmikan, yaitu baru di resmikan pada tahun 2008.
Di bagian depan lokasi candi, persisnya di depan pintu masuk kawasan candi, kami menemukan bekas-bekas pondasi bangunan, beserta reruntuhan batu-batu kuno di sekelilingnya. kemungkinan batu-batu kuno itu merupakan bangunan candi yang runtuh dan belum sempat direnovasi. Setelah kami hitung jumlah lokasi bekas pondasinya, ternyata terdapat tiga lokasi bekas pondasi candi. Ini menandakan masih ada tiga candi lagi yang belum sempat di renovasi dan belum teridentifikasi.
Di dalam kawasan candi, terdapat tiga buah candi yang sudah jadi dan saling berjajar di antara ketiganya. Namun bangunan candi itu tidak semuanya lengkap, namun ada beberapa candi yang kekuarangan bangunan, walau pun semuanya sudah tegak berdiri. Candi yang bertempat di ujung paling barat adalah candi Puntadewa. Bangunan candi ini merupakan banguan candi yang paling lengkap di bandingkan denga candi-candi sekelilingnya. Bangunan candi ini berukuran kira-kira 4X4 meter dengan tinggi sekitar 7 meter. Di bagian dalam candi terdapat ruangan yang agak sempit dan terdapat tempat membuat sesaji untuk menghormati roh nenek moyang. Sedangkan di depan pintu candi terdapat bangunan yang berukuran kira-kira 2X4 meter. Tapi kami kurang mengetahui untuk apa fungsi bangunan itu, dan kebetulan kami pun tidak sempat menayakan kepada penduduk sekitar.
Sedangkan bangunan candi yang terletak di bagian tengah adalah candi Srikandi. Sedangkan candi yang sebelah timur di namaka andi Bima. kedua candi ini terlihat kekuarangan bahan dasar, karena ada beberapa bagian candi yang tidak ada. Terutama bangunan yang terletak di depan candi. Seharusnya, terdapat bangunan di depan pintu candi, tetapi hanya terdapat bekas pondasinya saja, sedangka bangunannya entah raib kemana.
Setelah puas menikmati bangunan peninggalan hindu itu, kemudian kami kembali ke penginapan. Selama melakukan aktivitas itu, kami semua merasakan dingin yang sangat menusuk tulang. Keadaan sekitar masih dengan pemandangan kabut yang tebal, dengan sekali-kali diiringi dengan rintikan hujan.
Penulis adalah
Anggota ekspedisi Merapi-Dieng
Komentar
Posting Komentar